Terima Kasih Pak Maruf Amin

Terima Kasih Pak Maruf Amin

Kegiatan

Dinipurwono.id –  Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berikan acungan jempol pada Kiai Maruf Amin atas performanya dalam Debat Cawapres pada Minggu 17 Maret 2018 kemarin.

”Terus terang, saya dan kawan-kawan di PSI berbahagia sekali menyaksikan debat antar cawapres. Kami bahagia karena tiba-tiba saja kami menyaksikan sosok yang lain dari Cawapres KH Ma’ruf Amin,” kata politisi PSI, Dini Shanti Purwono, Senin, 18 Maret 2018.

Dini mengaku selama ini sangat mengagumi Jokowi. Karena itu, PSI sadar bahwa kombinasinya dengan Kiai Ma’ruf Amin akan semakin mempermudah jalan Indonesia menuju masa depan yang cemerlang dan sejahtera.

”Kiai Ma’ruf Amin kemarin bicara sebagai orangtua pada kami anak-anak muda tentang bagaimana Indonesia dalam lima tahun mendatang. (Dari paparan kiai Maruf) Indonesia akan betul-betul terbentang untuk kami manfaatkan,” tambahnya.

Caleg DPR RI Dapil Jateng 1 ini menambahkan, saat debat Kiai Ma’ruf menjelaskan soal pengembangan dana abadi bagi riset, pendidikan dan kebudayaan.

Kiai Maruf juga menjelaskan bagaimana riset-riset di berbagai kementerian nantinya akan dikoordinasi di bawah payung satu lembaga riset nasional. Sehingga pemanfaatan dana akan menjadi lebih efisien dan efektif.

”Pak kiai (Maruf) bicara soal Tol Langit, tentang pemanfaatan Satelit Palapa untuk mempermudah arus informasi antar wilayah di Indonesia yang akan bisa mendorong pengembangan berbagai usaha kecil menengah yang digerakkan anak muda di seluruh Indonesia,” sambungnya.

Dalam debat, Kiai Maruf tampak sedang mengajarkan Sandiaga tentang stunting. Dan bagaimana upaya mengatasinya supaya tidak bisa diselesaikan dengan sekadar membagi-bagi susu bagi anak-anak.

Dia mengajarkan Sandiaga tentang bagaimana instrument yang bisa digunakan untuk memantau dan mengendalikan dana pendidikan yang sangat besar di daerah-daerah sehingga dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan anak didik..

Dan betapa dahsyatnya ketika seorang kiai mengatakan “kepada anak-anakku di seluruh Indonesia, kalian jangan takut bermimpi, kalian tidak boleh berhenti bercita-cita. Bagi para orang tua jangan berputus asa, seolah hilang harapan bagi anak-anaknya di masa depan”.

“Kalian jangan takut dan jangan sedih, karena sekarang negara sudah hadir, dan akan terus hadir untuk membantu kalian,” demikian salah satu kutipan dari pernyataan Kiai Maruf yang menjadi viral. (Cep)

PSI ke Parpol Lama: Kenapa Bungkam Saat Ada Gereja Disegel dan Jemaatnya Dipersekusi

PSI ke Parpol Lama: Kenapa Bungkam Saat Ada Gereja Disegel dan Jemaatnya Dipersekusi

Kegiatan

Dinipurwono.id – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie menyampaikan kritik kepada partai politik lama. Grace, sapaan akrabnya, menyoal sikap parpol nasionalis yang tak berani bersikap saat ada penutupan rumah ibadah dan persekusi terhadap jemaatnya.

“Kenapa kalian bungkam, ketika pada 27 September lalu, tiga gereja disegel di Jambi karena adanya ancaman dan desakan massa. Hanya PSI yang mengecam! Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan Medan?” tukas Grace, heran.

Hal itu disampaikan Grace dalam pidato politik berjudul “Beda Kami –PSI– dengan Partai Lain” di Festival 11 di Medan, Sumatra Utara, Senin 11 Maret 2019.

Sejatinya, sambung Gracet, PSI tak perlu berdiri jika partai-partai nasionalis lama mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Mengerjakan persoalan-persoalan kebangsaan yang selama ini terjadi nyata di depan mata. Sayangnya, parpol lama memilih aman dengan tidak bersikap apa pun atas ketidakadilan itu.

Perda Diskriminatif

PSI merupakan partai yang sejak awal lantang menentang terhadap peraturan berbau agama yang cenderung diskriminatif seperti perda-perda agama. Ironisnya, kata Grace, partai nasionalis yang saat ini duduk di DPR justru yang berperan aktif dalam megeluarkan perda-perda diskriminatif.

“Silakan baca ‘The Politics of Shari’a Law’ yang ditulis Michael Buehler, Guru Besar Ilmu Politik Nothern Illinois University, yang dari penelitiannya menyimpulkan bahwa PDI Perjuangan dan Golkar terlibat aktif dalam merancang, mengesahkan, dan menerapkan 58 Perda Syariah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Pidato Grace tak hanya merujuk satu penelitian. “Penelitian Robin Bush juga menyimpulkan hal yang sama,” sambung Grace.

Grace menegaskan, PSI merupakan partai piltik yang berbeda dengan partai politik lama. Meski, berada dalam satu koalisi untuk memenangkan Calon Presiden Joko Widodo dan Calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

“Kepada partai lain, yang ada di BPN termasuk juga yang ada dalam satu koalisi TKN, kami mohon maaf. Meskipun kita (TKN) berada dalam perahu yang sama yang akan membawa Pak Jokowi kembali menang, tapi bukan berarti kita tidak memiliki perbedaan,“ pungkas Grace. (Cep)

Dini: Hadapi Era Inovator 4.0 dengan Jiwa Manusiawi

Dini: Hadapi Era Inovator 4.0 dengan Jiwa Manusiawi

Kegiatan

Dinipurwono.id – Bagi generasi milenial yang masih ragu-ragu hadapi era Inovator 4.0, ini saran dari politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dini S Purwono. Caleg DPR RI Dapil Jateng 1 ini menyampaikan, modal menghadapi era industri manusia harus tetap menjadi manusia.

“Hadapi era industri 4.0 ini, kita harus tetep jadi manusia. Manusia yang punya rasa manusiawi. Empati dan peduli pada sesama. Itu yang tidak dimiliki mesin,” kata alumnus Harvard Law School ini saat sharing bersama generasi milenial di Folkafe Semarang, Jumat 22 Februari 2019.

Menyimak: Generasi milenial Semarang menyimak paparan Caleg DPR RI Dapil Jateng 1 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dini S Purwono tentang era Inovator 4.0 di Folkafe, Tembalang, Semarang.

Dini, sapaan akrabnya, berbincang hangat bersama generasi milenial Semarang atas inisiatif komunitas anak muda Letha Inspire. Komunitas ini mendedikasikan tenaga dan pikriannya untuk membangun sumber daya manusia yang unggul sejak dini.

“Saya tegaskan pada teman-teman, jadi anak muda itu harus berani. Berani keluar dari zona nyaman. Jangan takut dengan kondisi, ketika kita tiba-tiba ada pada posisi yang kurang enak,” kata Dini yang juga alumni FH UI ini.

Dengan tema “Muda, Berkarya, Bangun Negeri” ini Dini bercerita pengalamannya saat bekerja di sebuah perusahaan negara. “Gaji sudah pasti lumayan, lah. Namanya juga BUMN. Tapi ketika tidak sesuai prinsip, sama saja dengan membohongi diri. Saat itu akhirnya saya memutuskan berhenti,” tuturnya.

Menjadi anak muda, katanya, harus berani melakukan lompatan. Lompatan ini penting bagi generasi muda untuk membangun karakter yang baik. Karakter yang peduli sesama dan selalu berpikir untuk membangun bangsa yang lebih baik.

“Toh, hidup ini pasti diakhiri dengan kematian. Hidup ini pendek, kenapa harus ada yang ditakuti. Sebagai anak muda, kita harus berpikir dan berusaha bagaimana supaya bisa bermanfaat bagi orang sekitar dan menjadikan kondisi bangsa lebih baik,” pungkasnya. (Cep)